Prolog - Janji
PROLOG - JANJI
Puing-puing
berserakan memenuhi ruangan yang terlihat seperti altar dengan patung-patung
disetiap sudut sisinya. Empat orang tengah mengelilingi altar dan menggenggam
sebuah kotak tanpa tutup berisikan Artefak. Tepat diatas altar dengan ukuran
yang tak lebih dari 1x1 meter, dengan hikmat mereka lafalkan kata-kata yang
tidak diketahui apa makna dan asalnya seraya bergantian meneteskan darah dari
telunjuk jemari mereka. Kotak kecil berwarna kecoklatan dengan corak khas
timbul, mulai bergetar mengguncang dahsyat, ruangan yang semula redup mulai
terlihat terang dengan adanya pencahayaan yang berasal dari runtuhan atap,
mengizinkan cahaya menilisik melalui lubang-lubang yang kian terus membesar
bersama dengan runtuhnya ruangan.
Keempat pria
berjubah mulai bernafas terengap-engap tidak teratur, keringat terus berceceran
mengalir menelusuri wajah yang dengan mistis tak masuk diakal mulai menua.
Kerut-kerut mulai memenuhi ruang wajah mereka namun tetap tak dapat
menyembunyikan karisma kegahan yang memancar dari raut-raut wajah tua itu.
Getaran terus menguat mencoba menghempaskan tangan-tangan yang berusaha terus
menahan kotak berada diposisi lingkarang dengan garis-garis tersusun rapih
membentuk pola rumit berisikan symbol-simbol yang kian terang benerang memengkapkan
mata. Empat pria berjubah terus berjuang menahan beban yang kian meningkat
mendera tubuh dan berusaha menarik jiwa-jiwa mereka keluar. Dua pasang mata
mulai meredup kehilangan cahaya kehidupan diikuti hempasasan tubuh tanpa
perlawanan menghantam dinginnya lantai menyisakan dua orang berjubah yang mengeryitkan
dahinya namun terus melafalakan kata-kata.
Darah mulai
menyelinap dari bibir salah satu pria berjubah, dengan gerakan kepala yang
gemetar menatap pria berjubah lainnya seraya berkata, “ Farhan, kau harus tetap hidup. Ku percayakan garis keturunan keluarga
kita kepadamu. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan di era ini. Dengan
apa yang kita dan mereka lalukan ku berharap cukup bisa melindungi semua ras
manusia, dan mengakhiri era ini serta membangun era kejayaan yang baru. Farhan,
harapanku besar kepadamu. Jangan pernah lupakan apa yang telah terjadi biarkan
sejarah terus mengingat dan tak melupakan sejarah ini demi menghindari……”
mata pria berjubah itupun mengikuti jejak 2 pria berjubah lainnya kehilangan
cahaya terangnya dan meredup tanpa mampu menyelesaikan kalimat terakhirnya
sebagai legacy kepada satu-satunya pria berjubah yang bertahan menahan kotak
yang mulai menghitam meninggalkan warna aslinya.
Air mata mengalir deras menjelajahi kerut-kerut
muka pria berjubah terakhir. Suara parau tersedu-sedu sontak keluar dari pria
berjubah, Rasa yang lama bergejolak didalam hatinya terpecahkan dalam
teriaknya, “ Ayahanda,
ayahaandaaaaaa….!!!!!!!” Tangannya reflek menggapai dan dengan kuat menggengam
tangan pria berjubah yang tengah tergeletak kehilangan hembusan nafasnya, dan
kemudian memeluknya dengan erat seakan takan ada yang mampu memisahkan mereka.“ Ayahanda, Aku, Farhan berjanji akan
menjaga harapan mu. Atas nama leluhur, pejuang, dan keturunan aku bersumpah aku
akan mewujudkannya!” dengan tangan yang masih terus bergetar diapun
berdiri, berjalan dan menyentuh kembali kotak hitam yang tengah melayang diatas
udara dan melanjutkan lafalan kata-kata terakhir. Suara gemuruh terdengar
seantero negeri. Bumi bergetar, lautan bergejolak, hewan-hewan berhamburan
mencari perlindungan. Cahaya menjulang tinggi bagaikan pilar tanpa ujung
diikuti cahaya-cahaya sejenis yang entah berapa jumlahnya menusuk langit tanpa
dasar.
Bagus anak muda :v
BalasHapusTerimakasih anak tua :)
HapusKayak cerita sex wkwkwkwk
BalasHapus